Senin, 05 Juni 2017

Perlombaan Kekerasan Sinetron “Anak Langit”

Ide tulisan ini berasal dari kekesalan saya atas suguhan program televisi yang mengajarkan kehidupan dengan sudut pandang “siapa yang kuat ototnya, maka ia yang akan bertahan hidup”, suguhan yang seakan membodohkan dan melupakan bagaimana perkembangan masyarakat zaman dahulu mementingkan “okol” (otot) daripada akal. Bukan menjadi tayangan yang dapat memuat nilai-nilai moral, mencerdaskan serta mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang hidup bermasyarakat. 
 Semoga tulisan ini dapat membuka pikiran serta wawasan bagai para pembaca, baik yang mengonsumsi tayangan sinetron maupun tidak, agar dapat berhati-hati dalam memilih dan memilah tayangan yang bermutu dan memuat manfaat yang dapat diterapkan dalam menjalani kehidupan. Pada tanggal 31 maret 2017 saya sengaja menemani teman saya yang menonton sinetron Anak Langit di SCTV, saya ingin mencari tahu alasan kenapa teman saya bisa benar-benar tertarik akan sinetron yang menurut saya menunjukkan gaya hidup konsumtif, hal ini dikarenakan pemeran pada sinetron tersebut terikat dalam kelompok-kelompok geng motor, dan tentunya antar geng motor tersebut terlibat perselisihan. 
Dalam sinteron tersebut memperlihatkan bagaimana Key (salah satu pemeran sinetron Anak Langit) disabotase rem motornya oleh Yoga (anggota Geng Antraks) agar mengalami kecelakaan, kejadian itu disebabkan karena perselisihan antara Geng Antraks dengan Geng Rainbow, dimana ketua Geng Rainbow adalah Al (kakak Key). Setelah kejadian tersebut, Al kemudian melakukan pembalasan dengan cara menculik Yoga dan dipaksa untuk memberi pengakuan bahwa dia adalah pelakunya dengan cara dipukuli.
Penayangan sinetron Anak Langit ditayangkan pada jam 18.30-20.30 WIB, dimana pada jam tersebut rentan bagi anak untuk menonton acara televisi karena berada pada jam berkumpul keluarga cara menghabiskan waktu bersama dengan menonton acara televisi. Bagi saya, penempatan jam tersebut dirasa mengkhawatirkan karena anak zaman sekarang banyak yang mengkonsumsi sinetron, dan bagaimana jadinya jika sinetron yang ditonton banyak menunjukkan adegan kekerasan tanpa diberikan sensor pada bagian pemukulan dan syarat akan kebencian satu sama lain, tentunya anak akan mudah untuk meniru dan menganggap hal tersebut adalah sikap yang patut diikuti. 
Meskipun tayangan tersebut hanya sebuah sinetron tetapi bagi anak yang masih pada masa pertumbuhan dapat dengan mudah mentransmisikan sebuah adegan tanpa memilah-milah adegan yang layak atau tidak. Anak akan mempunyai konstruksi pikiran bahwa pihak yang kuat dan kasar adalah pihak yang berkuasa, tentunya anak akan mudah mengadopsi penyelesaian maslah dengan cara kekerasan, bukan dengan jalur perundingangan. 
Menurut Piaget tahap 7-15 tahun adalah waktu dimana anak mampu mengembangkan hipotesis untuk memecahkan masalah dan menarik kesimpulan secara sistematis. Pada tahap ini, anak sudah mampu menyimpulkan apa yang dia dapat dan dapat memecahkan suatu masalah, tetapi akan berbeda hasilnya tergantung apa yang anak konsumsi, baik dari keluarga, masyarakat, maupun media telekomunikasi. Orang tua harus mempunyai perhatian besar pada anak agar anak tidak menarik kesimpulan yang salah dan memecahkan masalah dengan cara yang buruk.
Daftar Pustaka 
Rifa’i. A. RC. Dan Tri. C. A. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES PRESS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar